Rakyat
Hartoyo Andangjaya menulis tentang rakyat dalam salah satu sajaknya yang berbunyi:
Rakyat ialah kita
Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi tanah tercinta
jutaan tangan yang mengayun bersama
membuka hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik kota
mereba kelam di tambang logam
dan batu bara menaikkan layar menebar jala
rakyat ialah tangan yang bekerja
...............................................
rakyat ialah kita puisi kaya makna di wajah semesta
Kalau Hartoyo menekankan rakyat dengan “kita”, Rendra malah menggugat, dan dengan lantang mengatakan bahwa rakyat bukan “kita”. Gugatan itu dituangkan dalam sajak “pernyataan dari rakyat” :
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kita bukan sekutu!
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
Maka kami bilang tidak kepadamu!…..
Terjadi kontradiksi antara kedua sajak tersebut. Rakyat dalam pandangan Hartoyo lebih kepada tataran “idea” sedangkan rakyat dalam pandangan Rendra adalah dalam tataran “reality”. Hal yang harus disadari memang, bahwa antara “idea” dan “reality” antara “conception” dan “creation” tidak selamanya selalu seiring sejalan. Antara wacana dan sector riil, antara yang “di atas meja” dan yang “di bawah meja” kadang selalu tercipta jarak.
Siapakah rakyat itu?
Dalam bahasa latin, Rakyat biasa disebut populis. Dalam bahasa inggrisnya sering disebut people. Dalam konteks keindonesiaan? Masih menjadi teka-teka silang. Bingung. Karena pengertian rakyat di Indonesia bisa berbeda-beda sesuai dengan kepentingan. Seperti perseneling yang dengan mudah diganti-ganti oleh sopir.
Rakyat dalam Undang-undang Dasar 45 adalah pemegang kedaulatan tertinggi, sehingga disebutkan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Ini sejalan dengan pandangan Hartoyo Andanjaya bahwa rakyat ialah kita. Tapi pada perjalanan selanjutnya kata rakyat mengalami pergeseran makna. Kata rakyat sering dilekatkan kepada kelompok masyarakat yang tidak mempunyai cukup kekuatan atau legitimasi untuk secara gampang memerintah orang lain begitu saja. Kata rakyat bergeser nilainya menjadi wong cilik, akar rumput kering yang selalu terinjak sepatu. Bahkan pada rezim sebelumnya, rakyat sering dianggap sebagai duri-duri tajam yang harus disingkirkan. Diburunya wiji thukul, penyair solo yang merupakan ketua jaringan kesenian Rakyat (Jaker) karena dicurigai sajaknya menyuarakan sosialisme-komunisme sebab didalam sajaknya banyak menyebut kata “rakyat” merupakan fakta gamblang tentang hal ini (lha! apa kaitannya kata “rakyat” di Indonesia dengan sosialisme-komunisme?)
Dalam struktur hirarki, rakyat selalu menempati bagian alas. Kelompok yang tidak pernah naik kelas. Kelompok yang harus rela di pecundangi dan di gencet-gencet oleh mereka dari kelompok atas dalam hal ini kaum elit atau penguasa. Dalam distribusi kekayaan alam (namanya saja di posisi alas ) yah, harus rela mendapat ampasnya. Itupun kalau masih ada ampasnya. Apesnya lagi, kadang nasib rakyat seperti kata pepatah, tidak makan nangkanya dapat getahnya. Tidak menikmati kekayaan alamnya, ketiban utangnya.
Wacana tentang rakyat memang selalu mengandung polemik, membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan. Apakah pengertian rakyat itu tertuju kepada seluruh penghuni negeri ini, termasuk juga penguasanya, pengusahanya, koruptornya, malingnya, garongnya, tukang becaknya, penjual jamu gendongnya, ataukah pengertian rakyat hanya tertuju kepada mereka yang menjadi korban gusuran untuk gedung-gedung bertingkat milik konglomerat, mereka yang hidup di daerah kumuh, mereka yang sering di eksploitasi tenaganya oleh pihak perusahaan dan hanya mendapat upah pas-pasan, atau mereka yang tinggal dipedalaman yang tidak kebagian listrik dan pembangunan jalan yang layak?
Malas rasanya memperdebatkan tentang siapa dan apa itu rakyat, toh akhirnya kita juga sepakat bahwa dari dulu dan barangkali akan terus berlanjut entah sampai kapan, di mana-mana rakyat telah dikondisikan untuk manut, taat dan patuh. Dikondisikan untuk harus mendengar apa kata elit atau penguasanya tanpa boleh membantah sedikitpun. Tak jarang perintah dari sang penguasa hampir menjadi firman suci yang mutlak harus dilakukan. Bahkan konsekuensi jika tak menjalankan perintah dari para penguasa, secara psikis, sering terasa lebih menakutkan dari pada konsekuensi tidak menjalankan perintah Sang Khaliq. Iya, memang demikian, karena konsekuensi tak menjalankan perintah Sang Khaliq, sering dianggap remeh, karena ganjarannya dianggap nanti akan datang pada suatu masa.
Lebih baik sekarang kita menengok Mang Karun , tukang becak yang sering kena gusur karena alasan ketertiban kota dan sama sekali tidak menyimpan harta karun seculipun, yang sedang sibuk membuat Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga (RAPBK) selama satu bulan. Penghasilan : Tidak tetap, tergantung nasib. Pengeluaran : - Biaya makan untuk lima orang. Kalau 1 hari = Rp. 20.000 (menu tempe, sambel trasi plus krupuk), Kalau sebulan =Rp. 600.000,- - Biaya spp untuk ketiga anaknya di hitung rata-rata 20.000 (itu sudah yang kelas pinggiran), sebulan =Rp. 60.000,- - Biaya transportasi tiga orang anaknya pulang pergi sekolah, 1 0rang Rp 3000 x 3=9000 sehari. Kalau sebulan Rp. 270.000,-
Malang nian nasib Mang Karun. Dia keburu pingsan karena sesak nafas sebelum sempat menghitung biaya sewa kontrakan, beli minyak tanah untuk lampu teploknya, biaya perbaikan becaknya, dan sebagainya. Setelah siuman, Langit di atas kepala Mang Karun nampak semakin pekat. Sepekat kopi pahit yang dia minum setiap pagi. Harapan-harapan yang dia pancang tinggi harus di robohkan. Impian-impian manis yang dia kulum, terpaksa dia muntahkan. Sedangkan perut semakin tidak pernah kenal kompromi, dan perubahan yang dia harapkan hanya sekedar mimpi.
Penguasa yang seharusnya menjadi pelindung rakyat malah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang semakin tidak memihak rakyat. Wakil-wakil rakyat yang seharusnya menjadi aspirator rakyat malah mendukung dan gelinya lagi, mereka malah meminta tambahan gaji. Pernyataan-pernyataan para menteri semakin membuat dada yang sudah sesak menjadi semakin sesak. Subsidi yang cuma seupil-upil dicabut dengan alasan APBN sudah sekarat.
Kalau rakyat terus-terusan di subsidi, rakyat nantinya tidak kreatif, tidak mandiri, sebaiknya rakyat tidak di beri ikan, tapi di beri pancing, kata mereka. Duhai, jangan menghina rakyat dengan memberi pancing, sedangkan kali-kali yang akan dikail sudah kering dikeruk oleh kaum kapitalis.
Ah…Mang Karun tak mau berlama-lama berkeluh kesah. Dengan sisa-sisa nafasnya dia berusaha menyulam benang-benang asanya yang sudah rapuh dan koyak menjadi rajutan baru dan dengan keyakinan bulat bahwa dia masih punya tuhan yang selalu mendengar ratapan hambanya yang terzhalimi oleh penguasa. Ratapan yang mempu meretakkan langit yang semakin tua dan rapuh.

Recent Comments